SURVEILLANCE PENYAKIT MENULAR PADA TERNAK BABI

Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Belitung (DKPP) melaksanakan Surveillance Selasa 22 Juli 2021 pada peternakan babi di Desa Aik Pelempang Jaya Kecamatan Tanjungpandan Kabupaten Belitung. Kegiatan ini bertujuan untuk melakukan pengawasan penyakit hewan menular pada ternak babi.

Selasa, 20 Juli 2021 Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Belitung mendapat laporan bahwa telah terjadi kematian ternak babi dalam jumlah besar di Desa Air Pelempang Jaya Kecamatan Tanjungpandan. Berdasarkan laporan tersebut, pada tanggal 21 Juli 2021 petugas melakukan kunjungan lapangan ke lokasi namun pada saat itu tidak ditemukan adanya kematian ternak babi. Pada Rabu, 22 Juli 2021 peternak kembali melaporkan kematian ternak babi sebanyak 4 ekor sehingga dalam kurun waktu 3 (tiga) minggu total kematian mencapai 35 ekor dan langsung ditindaklanjuti petugas Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Belitung dengan pengumpulan informasi terhadap peternakan tersebut. Hasil pemeriksaan kasus dan gejala klinis pada ternak babi yang sakit ditemukan gejala hilangnya nafsu makan, radang mata, kemerahan pada seluruh tubuh dan diikuti dengan kematian pada semua kelompok umur babi yang ada di peternakan. Petugas selanjutnya melakukan pengambilan sampel organ (limpa, kulit, dan tulang), swab lingkungan, dan sampel darah dan sampel tersebut dikirim untuk diperiksa melalui uji polymerase chain reaction (PCR) di Balai Veteriner Lampung.

Berdasarkan hasil pengujian laboratorium oleh Balai Veteriner Lampung tanggal 26 Juli 2021 terhadap sampel yang dikirimkan, diperoleh hasil positif penyakit Demam Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF). Demam babi Afrika disebabkan oleh African Swine Fever Virus (ASFV). ASF adalah penyakit pada babi yang sangat menular dan dapat menyebabkan kematian pada babi hingga 100 % sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Virus ini dapat menginfeksi anggota famili Suidae, baik babi yang diternakkan maupun babi liar. ASF sangat resistan terhadap temperatur rendah yang artinya virus tetap hidup pada daging beku. Virus ASF juga relatif tahan terhadap suhu tinggi, virus baru terinaktivasi setelah dipanaskan pada 56 °C selama 70 menit atau 60 °C selama 20 menit, pemasakan produk daging yang tidak sempurna dapat menyebabkan virus tetap aktif pada olahan daging babi.

Ternak babi yang terinfeksi ASF menunjukan tanda-tanda Klinis meliputi kemerahan di bagian perut, dada dan scrotum, diare berdarah, sembelit, kejang, tidak mau makan, muntah dan kesulitan bernafas.  Penyakit ASF dapat menyebar melalui kontak langsung antar babi yang sakit dengan babi yang sehat, pekerja kandang sebagai perantara, peralatan kandang, pakan yang terkontaminasi, kendaraan, dan serangga. Hingga saat ini, belum ditemukan vaksin untuk pencegahan penyakit ASF. ASF tidak berbahaya bagi manusia dan bukan masalah kesehatan masyarakat. ASF bukan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis).

Peternakan babi yang positif ASF di Desa Aik Pelempang Jaya disarankan untuk melakukan penyemprotan desinfektan rutin dan menerapkan biosecurity untuk menekan kontaminasi virus ASF dan tidak menjual babi dalam keadaan hidup. Petugas DKPP selanjutnya melakukan Pengambilan sampel di lokasi pemotongan babi, lapak pedagang daging babi dan melakukan penelurusan/tracking ke daerah-daerah yang ada peternakan babi untuk memetakan sejauh mana penyebaran penyakit serta melakukan komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) kepada peternak/pedagang babi di wilayah Kabupaten Belitung tentang penyakit African Swine Fever.

Pengawasan yang ketat dilakukan terhadap lalu lintas ternak babi di dalam wilayah Kabupaten Belitung dan dari/ke wilayah Kabupaten Belitung bekerjasama dengan Balai Karantina Pertanian Kelas II Pangkalpinang wilayah kerja Tanjungpandan dan pihak terkait lainnya.

2 1 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x